ORIM: Empat Cara Sederhana Orang Tua Menumbuhkan Literasi di Rumah
Literasi tidak hanya
berlangsung di sekolah. Rumah merupakan ruang penting tempat praktik membaca,
menulis, berbicara, menyimak, dan mencari informasi berlangsung dalam kehidupan
sehari-hari.
Ketika orang tua membacakan
buku, mengajak berbicara tentang cerita, menyediakan bahan bacaan, atau
menunjukkan kebiasaan membaca, sesungguhnya sedang berlangsung praktik literasi
di rumah.
Karena itu, persoalannya
bukan hanya berapa banyak buku yang tersedia di rumah, tetapi bagaimana buku,
tulisan, bahasa, dan informasi menjadi bagian dari kehidupan keluarga.
Salah satu kerangka yang
dapat digunakan untuk melihat praktik tersebut adalah ORIM: Opportunities,
Recognition, Interaction, dan Modelling. Kerangka ini melihat keterlibatan
orang tua melalui empat bentuk dukungan dalam praktik literasi di rumah
(Mufidah et al., 2024).
1. Opportunities: Memberikan
Kesempatan
Literasi membutuhkan
kesempatan untuk dipraktikkan. Orang tua dapat menyediakan buku, mengajak
membaca bersama, memberi kesempatan memilih bacaan, atau melibatkan anggota
keluarga dalam kegiatan mencari informasi. Kesempatan juga dapat muncul dari
aktivitas sehari-hari, seperti membaca resep, membuat daftar belanja, membaca
petunjuk, atau menulis pesan.
Dalam penelitian Heryadi dan
Retnaningdyah (2024), kegiatan membaca bersama menjadi salah satu bentuk Opportunities.
Anak diberi kesempatan memilih buku, mendengarkan orang tua membaca, kemudian
melanjutkan membaca dan membicarakan cerita tersebut. Jadi, kesempatan literasi
tidak harus berupa kegiatan yang formal. Kehidupan sehari-hari sudah
menyediakan banyak ruang untuk berliterasi.
2. Recognition: Menghargai
Usaha
Literasi juga membutuhkan
penghargaan terhadap proses. Ketika seseorang mencoba membaca, menulis,
bercerita, atau mencari informasi, orang tua dapat memberikan pengakuan
terhadap usaha tersebut. Bukan hanya hasil yang dihargai, tetapi juga
keberanian untuk mencoba dan perkembangan yang terjadi.
Kalimat sederhana seperti “Sekarang
kamu sudah bisa menemukan informasi sendiri” atau “Cerita yang kamu
sampaikan tadi menarik” dapat menjadi bentuk pengakuan.
Dalam ORIM, Recognition
merupakan salah satu bentuk keterlibatan orang tua dalam mengenali dan
menghargai perkembangan literasi (Mufidah et al., 2024).
3. Interaction: Membangun
Percakapan
Membaca bersama bukan sekadar
duduk berdampingan. Yang tidak kalah
dari itu yakni membangun percakapan yang muncul dari kegiatan tersebut.
Setelah membaca cerita, orang
tua dapat bertanya: Mengapa tokohnya melakukan itu? Bagian mana yang paling
kamu sukai? Apa yang akan kamu lakukan jika berada dalam cerita tersebut?
Percakapan membuat kegiatan
membaca menjadi pengalaman berpikir dan berbagi gagasan. Heryadi dan
Retnaningdyah (2024) menunjukkan bahwa interaksi orang tua dan keluarga dapat
berlangsung melalui membaca bersama, berdiskusi tentang cerita, maupun
permainan yang mendukung perkembangan bahasa.
4. Modelling: Menjadi Teladan
Cara sederhana lainnya adalah
memberikan contoh. Anak melihat orang tua membaca buku, mencari informasi,
menulis catatan, membaca petunjuk, atau menggunakan tulisan dalam kehidupan
sehari-hari. Kebiasaan tersebut menunjukkan bahwa literasi bukan hanya urusan
sekolah, tetapi bagian dari kehidupan. Dalam kerangka ORIM, Modelling
berkaitan dengan keteladanan orang tua dalam menggunakan berbagai praktik
literasi sehari-hari (Mufidah et al., 2024).
Literasi Tidak Harus Rumit. ORIM
memberikan pesan yang sederhana: literasi di rumah tidak harus dibangun melalui
kegiatan yang rumit. Tidak harus memiliki ruang baca khusus. Tidak harus
menyediakan waktu berjam-jam. Bahkan tidak selalu harus dimulai dengan buku.
Literasi dapat tumbuh dari
percakapan di meja makan, cerita sebelum tidur, membaca tulisan di jalan,
mencari informasi bersama, atau melihat orang tua menikmati sebuah buku. Karena
itu, ORIM dapat diterjemahkan menjadi empat pertanyaan sederhana:
·
Kesempatan apa yang sudah diberikan?
·
Perkembangan apa yang sudah diapresiasi?
·
Apa yang sudah dibicarakan bersama?
·
Keteladanan apa yang sudah ditunjukkan?
Empat pertanyaan sederhana
tersebut dapat menjadi awal untuk membangun budaya literasi di rumah. Sebab
literasi bukan hanya tumbuh ketika seseorang membaca buku. Literasi tumbuh
ketika membaca, berbicara, menulis, menyimak, dan mencari informasi menjadi
bagian dari kehidupan keluarga.
Daftar Bacaan:
Heryadi,
W., & Retnaningdyah, P. (2024). An examination of parental engagement in
young learner EFL literacy development. PANYONARA: Journal of English
Education, 6(1), 88–106.
Mufidah,
I., Retnaningdyah, P., & Mustofa, A. (2024). Parents’ involvement in
students’ home English literacy practices with diverse populations. EDUKASIA:
Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 5(1), 565–578.
Cari Artikel
Kategori Artikel
Artikel Terbaru
Membaca di Sekolah, Bertumbuh di Rumah
Dukung Gerakan Literasi
Mari berkolaborasi dan berkontribusi bersama Bale Atikan Nararya untuk mencerdaskan generasi penerus bangsa.
Hubungi Kami